INFORMASI TERKINI
  • 5 bulan yang lalu / Dapatkan Informasi Kegiatan Terupdate Masjid Agung Sunda Kelapa Dapat di Akun Instagram (@masjidagungsundakelapa)
WAKTU :

KHAZANAH ILMU : MATAHARI DAN MATA HATI (Dr. KH. Zakky Mubarak, M.A.)

Terbit 18 Oktober 2023 | Oleh : Reno Fathur | Kategori : KHAZANAH ILMU
KHAZANAH ILMU : MATAHARI DAN MATA HATI (Dr. KH. Zakky Mubarak, M.A.)

MATAHARI DAN MATA HATI

Oleh : Dr. KH. Zakky Mubarak, MA (Dewan Pakar Masjid Agung Sunda Kelapa)

Alam raya menjadi terang benderang setelah disinari dengan berbagai cahaya dan dampaknya. Sumber dari sinar itu berupa Matahari yang kemudian memantulkan cahaya ke bulan dan sumber-sumber penerangan lainnya seperti bintang-bintang yang jumlahnya amat banyak dan tidak dapat dihitung oleh manusia. Semua cahaya dan sinar yang menerangi alam semesta adalah bersumber dari cahaya yang diciptakan oleh Allah SWT.

“Selain Cahaya Penerangan yang Diberikan Allah Terhadap Alam Semesta, ada juga Cahaya yang menyinari Hati Manusia dan Rahasia Bashirah-nya.”

Sinar Matahari, rembulan, dan bintang-bintang setiap saat lenyap. Bulan dan bintang-bintang lenyap cahayanya jika Matahari terbit di siang hari. Sinar Matahari pun menjadi lenyap ketika malam tiba, namun cahaya yang menyinari hati manusia tidak akan hilang selama manusia itu terus mendekatkan diri kepada Allah SWT. Matahari bisa muncul dan tenggelam, tetapi mata hati tidak pernah pudar apalagi tenggelam.

Semua sinar dan cahaya yang ada dalam alam ini, termasuk dalam hati manusia adalah berasal dari Allah SWT. Manusia bisa membuat lampu listrik, lampu cempor atau lilin, hakikatnya semua itu berasal dari Allah SWT, karena bahan-bahan yang dijadikan untuk alat penerangan tersebut berasal dari bahan yang diciptakan oleh Allah SWT.

۞ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِۚ مَثَلُ نُورِهِۦ كَمِشۡكَوٰةٖ فِيهَا مِصۡبَاحٌۖ ٱلۡمِصۡبَاحُ فِي زُجَاجَةٍۖ ٱلزُّجَاجَةُ كَأَنَّهَا كَوۡكَبٞ دُرِّيّٞ يُوقَدُ مِن شَجَرَةٖ مُّبَٰرَكَةٖ زَيۡتُونَةٖ لَّا شَرۡقِيَّةٖ وَلَا غَرۡبِيَّةٖ يَكَادُ زَيۡتُهَا يُضِيٓءُ وَلَوۡ لَمۡ تَمۡسَسۡهُ نَارٞۚ نُّورٌ عَلَىٰ نُورٖۚ يَهۡدِي ٱللَّهُ لِنُورِهِۦ مَن يَشَآءُۚ وَيَضۡرِبُ ٱللَّهُ ٱلۡأَمۡثَٰلَ لِلنَّاسِۗ وَٱللَّهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٞ

Artinya : Allah (pemberi) cahaya (pada) langit dan bumi. Perumpamaan cahaya-Nya seperti sebuah lubang (pada dinding) yang tidak tembus yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu di dalam tabung kaca (dan) tabung kaca itu bagaikan bintang (yang berkilauan seperti) mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang diberkahi, (yaitu) pohon zaitun yang tumbuh tidak di timur dan tidak pula di barat, yang minyaknya (saja) hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya (berlapis-lapis). Allah memberi petunjuk menuju cahaya-Nya kepada orang yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Nur – 24:35).

“Adanya Cahaya adalah Bertujuan Agar Kita Dapat Melihat Lebih Jelas dengan Mata dan Hati”

Sebagaimana dijumpainya berbagai macam sinar dan cahaya yang ada di dalam semesta, maka terhadap hati manusia, Allah juga menyinarinya dengan cahaya iman. Dengan demikian, melalui hati yang sudah disinari oleh Allah SWT, maka orang-orang yang beriman dapat menghayati berbagai sifat Allah yang agung, termasuk dalam al-Asma’ al-Husna. Pada dasarnya, semua umat manusia termasuk mereka yang tidak beriman, mendapat sinar dari Allah SWT. Hanya saja sinar itu tertutup oleh sifat kemanusiannya yang terbelenggu oleh keinginan hawa nafsu. Dengan demikian, hati orang-orang kafir itu menjadi gelap gulita dan tidak mampu menghayati sifat-sifat Allah yang agung dan luhur.

أَوۡ كَظُلُمَٰتٖ فِي بَحۡرٖ لُّجِّيّٖ يَغۡشَىٰهُ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ مَوۡجٞ مِّن فَوۡقِهِۦ سَحَابٞۚ ظُلُمَٰتُۢ بَعۡضُهَا فَوۡقَ بَعۡضٍ إِذَآ أَخۡرَجَ يَدَهُۥ لَمۡ يَكَدۡ يَرَىٰهَاۗ وَمَن لَّمۡ يَجۡعَلِ ٱللَّهُ لَهُۥ نُورٗا فَمَا لَهُۥ مِن نُّورٍ

Artinya : Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (QS. Nur – 24:40).

Bukti bahwa hati orang-orang kafir itu mendapat cahaya dari Allah SWT, yaitu pada saat mereka ditanya, siapa yang menciptakan alam semesta dan siapa yang menciptakan segala macam isinya dan peristiwanya yang menakjubkan? Mereka pasti menjawab: Semua itu adalah berasal dari Allah SWT.

قُل لِّمَنِ ٱلۡأَرۡضُ وَمَن فِيهَآ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَذَكَّرُونَ قُلۡ مَن رَّبُّ ٱلسَّمَٰوَٰتِ ٱلسَّبۡعِ وَرَبُّ ٱلۡعَرۡشِ ٱلۡعَظِيمِ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ أَفَلَا تَتَّقُونَ قُلۡ مَنۢ بِيَدِهِۦ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيۡءٖ وَهُوَ يُجِيرُ وَلَا يُجَارُ عَلَيۡهِ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ سَيَقُولُونَ لِلَّهِۚ قُلۡ فَأَنَّىٰ تُسۡحَرُونَ بَلۡ أَتَيۡنَٰهُم بِٱلۡحَقِّ وَإِنَّهُمۡ لَكَٰذِبُونَ

Artinya : Katakanlah “Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak ingat?” Katakanlah: “Siapakah Yang Empunya langit yang tujuh dan Yang Empunya ‘Arsy yang besar?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “Maka apakah kamu tidak bertakwa?” Katakanlah: “Siapakah yang di tangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (azab)-Nya, jika kamu mengetahui?” Mereka akan menjawab: “Kepunyaan Allah”. Katakanlah: “(Kalau demikian), maka dari jalan manakah kamu ditipu?” Sebenarnya Kami telah membawa kebenaran kepada mereka, dan sesungguhnya mereka benar-benar orang-orang yang berdusta. (QS. Al Mukminun – 23:84).

Berdasarkan kenyataan ini, sesungguhnya kegelapan hati yang dimiliki oleh orang-orang kafir itu adalah disebabkan oleh pandangan mereka yang sesat. Dipenuhi oleh kebohongan dan dusta, dan tidak mau menerima kebenaran yang bersumber dari petunjuk Allah SWT. Dengan demikian, maka setiap orang muslim harus senantiasa menjaga sinar keimanan dalam hatinya secara terus menerus dan berkesinambungan, sehingga mata hatinya tidak pernah redup meskipun sinar Matahari bisa tenggelam pada saat datangnya malam.

“Cahaya Alam = Matahari,

Cahaya Hati = Iman”

SebelumnyaMAULID NABI MUHAMMAD SAW MAJELIS TAKLIM IBU-IBU (MTII-MASK) SesudahnyaPASCA PENGEBOMAN RUMAH SAKIT GAZA OLEH ISRAEL, MASK MENGADAKAN SHOLAT GHOIB

Berita Lainnya